Home / Opini / RE-INDUSTRIALISASI UMKM : “Langkah Strategis Ekonomi Mandiri Saat Ini”

RE-INDUSTRIALISASI UMKM : “Langkah Strategis Ekonomi Mandiri Saat Ini”

Kini, wabah Covid-19 telah menjadi fenomena yang luar biasa dan tidak terlepas dari adanya keterkaitan peran teknologi komunikasi. Tingkat penyebaran informasi yang begitu cepat, memicu kepanikan yang dirasakan oleh masyarakat sehingga secara tidak langsung telah merubah perilaku masyarakatserta dapat memicu ketimpangan terhadap keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

Keadaan saat ini dapat me-Reset segala aktivitas termasuk perekonomian seperti pasar uang, pasar saham serta aktivitas UMKM itu sendiri. Apabila gejolak akibat wabah Covid-19 terlambat diantisipasi, tentu akan mengacaukan perekonomian baik lingkup makro maupun mikro. Namun, sepertinya saat ini Indonesia sedang nyaman dengan kebijakan Decoupling. Padahal harusnya Indonesia sudah harus mandiri dengan meminimalisir ketergantungan terhadap IMF, World Bank dan sudah saatnya Indonesia harus berani untuk fokus terhadap pengembangan sumber daya yang dimiliki.

Pertumbuhan ekonomi global saat ini telah menurun yang ditandai dengan PDB dunia yang menurun hingga di angka 2%. Tentunya, perekonomian Indonesia ke depannya akan sangat bergantung pada proses penanganan pandemic Covid-19 ini yang telah menekan berbagai sektor di Indonesia. Pemberlakuan social distancing pun memberikan dampak yang tidak hanya menjauhkan hubungan fisik namun merembet pada aktivitas ekonomi masyarakat. Namun pilihan tersebut dinilai jauh lebih efektif dibandingkan dengan keputusan untuk lockdown dan kebijakan herd immunity sebab Indonesia berpeluang menjadi penghubung distribusi antar negara.seruan aksi untuk lockdown tentu dapat menghambat tingkat perekonomian seperti yang saat ini terjadi di negara Italia dan India. Presentase tingkat konsumsi akan melemah yang mempengaruhi beberapa indikator penopang ekonomi dan akan memicu keresahan sosial. 

Dalam situasi perekonomian yang tidak menentu seperti sekarang, UMKM menjadi kekuatan penyangga ekonomi nasional. “Dalam situasi ekonomi yang sedang terpukul, UMKM tampil sebagai tulang punggung dan menjadi andalan untuk menggerakkan ekonomi domestik. Kalau usaha-usaha besar pasti menunggu situasi membaik untuk pengembangan bisnis dan investasinya, beda dengan UMKM, usahanya harus tetap jalan, untung dikit nggak apa-apa. UMKM memang paling dinamis,” kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, dalam siaran persnya, Kamis (5/2/2020). Dalam situasi ini, UMKM dapat menjadi andalan dalam penyerapan tenaga kerja, mensubstitusi produk-produk konsumsi atau setengah jadi serta menjadi momentum agar masyarakat mengonsumsi produk UMKM itu sendiri.

Berdasarkan hal diatas, kita harus memikirkan solusi yang terbaik untuk membangkitkan kembali semangat industri nasional. Salah satunya langkah yang harus dilakukan adalah dengan terus aktif melaksanakan hilirisasi industri untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, memperkuat struktur industri, menyediakan lapangan kerja serta peluang usaha di negeri sendiri dengan melakukan Re-Industrialisasi. Faktor pendorong kesuksesan pelaksanaan reindustrialisasi adalah dengan memperkokoh sektor UMKM saat ini. Selain itu, dengan mengintegrasikan rantai pasok dari hulu ke hilir, dan terakhir, meningkatkan porsi dalam rantai nilai global (global value chain). Sesuai dengan misi Revolusi Industri 4.0, lima sektor yang akan diprioritaskan untuk strategi-strategi tersebut adalah makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik, serta kimia dan farmasi. Hal tersebut apabila terbentuk sangat kokoh maka akan semakin kokoh pula pondasi ekonomi sehingga dapat membuka lapangan kerja bagi kaum pemuda.

Menjadi sektor yang berperan aktif dalam hal lapangan kerja di Indonesia, sektor UMKM memiliki posisi strategis dalam keberlangsungan perekonomian Indonesia. Namun berdasarkan kondisi dilapangan, para pelaku UMKM seringkali mendapat kesulitan dalam hal permodalan  karena sulitnya memenuhi syarat creditworthiness (5C) yang menjadi standar Bank dalam memberikan pinjaman. Sehingga aset yang dimiliki UMKM, pada umumnya tidak dapat memadai untuk menjadi jaminan kepada pihak Bank. Hal inilah yang berujung pada siklus permodalan sektor UMKM yang memaksa para pelakunya dikenai bunga yang cukup tinggi.

Re-industrialisasi tidak bisa ditawar lagi saat ini dan harus segera menerapkan langkah-langkah untuk membangkitkan industri nasional. Keberhasilan reindustrialisasi tidak hanya akan meningkatkan kontribusi sektor UMKM terhadap PDB saja, namun dapat menjadi prasyarat bagi Indonesia untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang maju.

Penulis: Heni Ardianto

About admin

Permadani Diksi Nasional ( Persatuan Mahasiswa dan Alumni Bidikmisi Nasional ) Republik Indonesia adalah organisasi mahasiswa dan alumni penerima beasiswa Bidikmisi dari pemerintah republik Indonesia. Bidikmisi diluncurkan pada tahun 2010 dan pada tahun 2020 ini nama beasiswanya berubah menjadi KIP Kuliah. Permadani Diksi Nasional dibentuk di Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *