Home / Kisah Inspiratif Bidikmisi / Mahasiswa Bidikmisi Dilatih Kewirausahan

Mahasiswa Bidikmisi Dilatih Kewirausahan

KUPANG, TIMEX-Menghadapi era milineal atau revolusi
4.0, para mahasiswa dan juga masyarakat pada umumnya dituntut untuk
mampu meningkatkan kemampuan dalam menghadapi era digital ini. Hal
tersebut menuntut pihak perguruan tinggi untuk segera mengambil sikap
agar mempersiapkan mahasiswa dalam berbagai aspek.

Seperti yang dilakukan Politeknik Negeri Kupang (PNK) yang
mempersiapkan mahasiswa, khususnya kepada mahasiswa penerima beasiswa
bidikmisi agar mampu merubah mindset pekerja menjadi wirausaha.

Pelatihan kewirausahaan dengan mengusung tema “Mengubah Mindset
Pekerja menjadi Wirausaha Menyongsong Revolusi Industri 4.0 bagi
Mahasiswa Bidikmisi Angkatan 2018 Politeknik Negeri Kupang” ini
berlangsung di Auditorium PNK, Kamis (20/12).

Ambrosius Tino, Pembantu Direktur (Pudir) III PNK dalam kesempatan
tersebut mengatakan, PNK merupakan lembaga pendidikan vokasional yang
mempunyai kurikulum 60 persen praktek dan 40 persen teori. Dimana
kemampuan keterampilannya yang lebih ditonjolkan dengan banyaknya
praktekum yang diikuti mahasiswa selama perkuliahan.

Ditambahkan, selama perkuliahan dan pada saat mengerjakan tugas
akhir, mahasiswa PNK sudah menghasilkan karya-karya yang mempunyai nilai
ekonomis yang dapat dipasarkan.

Akan tetapi, karya yang dihasilkan oleh mahasiswa ini perlu
mendapatkan sebuah sentuhan akhir (inovasi). Sehingga hasil karya
tersebut menjadi layak untuk dipasarkan secara global.

“Pelatihan Kewirausahaan ini bertujuan agar ketika mahasiswa PNK
mendapat gelar diploma tiga, tidak menjadi pengangguran, tetapi dapat
memanfaatkan keahlian yang didapatkan semasa kuliah dan dapat
menciptakan lapangan kerja baru, dengan melihat peluang yang ada di
pasar,” katanya.

Mahasiswa PNK sebagai generasi milenial punya tantangan menyambut
Revolusi Industri 4.0 dan bonus demografi tahun 2030. Era Revolusi
Industri sebenarnya sedang mereka tapaki yang ditandai dengan
digitalisasi. “Contohnya, dari sistem belanja daring sampai pembayaran
uang elektronik (e-money). Tak hanya itu, perubahan di dunia digital
begitu marak terjadi di seluruh dunia, tidak terkecuali di NTT,”
ungkapnya.

Ketua Panitia, Gloria Manulangga mengatakan, dari indikator Revolusi
Industri 4.0, dapat diperhatikan dengan seksama jika pada era itu sistem
kehidupan akan didominasi sistem digital berupa IoT (Internet of
Things) dan Artificial Intelligence serta jaringan network yang masif.
Otomatisasi yang lebih keren akan bertebaran dalam perangkat yang
digunakan dalam keseharian. Gadget pun akan berkembang lebih canggih
lewat rilisan produk terbaru yang dilempar ke pasaran.

Gloria mengungkapkan apa jadinya jika generasi muda PNK memegang
barang-barang seperti itu. Seharusnya, mereka mampu menggunakannya untuk
hal-hal positif. Kenapa, karena agar mereka lebih siap menghadapi
tantangan. “Namun, sebaiknya kita berpikir akan risiko terburuknya
terlebih dahulu,” sambung dia.

Tanpa edukasi dan arahan, teknologi secanggih itu berpotensi
digunakan dalam hal-hal negatif. Untuk itulah, pendidikan melalui
seminar seperti ini diharapkan mampu menyentuh hati generasi muda PNK
yang sudah terkontaminasi dengan gadget.

Adanya Revolusi industri 4.0 rentan memunculkan pekerjaan yang baru,
sehingga risikonya adalah terdapat beberapa jenis pekerjaan yang
terdisrupsi. Pendidikan di perguruan tinggi khususnya seharusnya bisa
menjadi jembatan penghubung antara mahasiswa dengan dunia kerja yang
relevan, agar SDM unggul tercapai sesuai cita-cita pendidikan tinggi
vokasional.

Pendidikan di perguruan tinggi bukanlah sekadar ijasah. Namun mindset
harus diarahkan bahwa pendidikan sejatinya persiapan untuk hidup.
Karena memang begitulah seharusnya memandang esensi pendidikan.

“Pendidikan bukan lagi sekadar nilai tinggi. Akademik bersinar dan
memenangkan kompetisi. Tapi lebih dari itu. Pendidikan dalam era
revolusi industry 4.0 harus dipandang sebagai upaya persiapan untuk
bertahan dari berbagai ujian dan cobaan dalam hidup,” ujarnya.

Sementara, Christofel Liyanto, Komisaris Utama Bank Crista Jaya
sebagai pembicara dalam materinya mengatakan, mahasiswa harus memiliki
kemauan. Modal urutan sekian.

“Karena ketika kita punya kemauan untuk berusaha, maka di situ ada
jalan. Sehingga anak muda milenial zaman sekarang harus maju pantang
mundur, gagal itu hal biasa. Mengutip kata Jack Ma, “Kalo jatuh, bangun
lagi. Jatuh, bangun lagi. Begitu seterusnya”. Jangan Menyerah untuk
mencapai keinginan kita, tutupnya.

//

Link : Klik Disini

About admin

Permadani Diksi Nasional ( Persatuan Mahasiswa dan Alumni Bidikmisi Nasional ) Republik Indonesia adalah organisasi mahasiswa/i dan alumni penerima beasiswa Bidikmisi dari pemerintah republik Indonesia. Bidikmisi diluncurkan pada tahun 2010 dan telah memiliki penerima lebih kurang 700.000 mahasiswa/i. Permadani Diksi Nasional dibentuk di Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 2015.

Check Also

Tutorial Pembaharuan Akun

Link : Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *