Home / Kisah Inspiratif Bidikmisi / Ujang, Raeni dan Sopariah

Ujang, Raeni dan Sopariah

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world

 (Nelson Mandela)

NAMA-nama
yang tertera pada judul tulisan ini, tidak lain adalah sebagian dari
penerima beasiswa Bidikmisi yang sekarang sudah berjumlah lebih dari
tiga ratus ribuan mahasiswa. Ujang Purnama adalah mahasiswa Program
Studi Sains dan Teknologi Farmasi ITB dan peraih Ganesha Prize 2015,
yakni penghargaan tertinggi ITB bagi mahasiswa yang berprestasi baik di
bidang akademik maupun nonakademik. Dia juga mendapat kesempatan untuk
magang di Groningen University Belanda dan pada tahun 2016 termasuk
peneliti muda terbaik dunia pada lomba yang diselenggarakan oleh
Novartis, perusahaan Farmasi raksasa Perancis.

Raeni, adalah
mahasiswa Universitas Negeri Semarang, yang membikin ‘heboh’ dunia
pendidikan. Anak seorang tukang becak, lulus cumlaude dan pada saat
wisuda dengan bangga diantar naik becak dengan sang ayah tercinta
sebagai pengayuhnya. Biasanya pada saat wisuda orang cenderung berlomba
untuk menaikkan status sosialnya. Yang tidak punya mobil, berusaha
pinjam atau sewa mobil demi kesakralan wisuda. Setelah lulus, melalui
beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) melanjutkan studi pada
program Magister of Science, International Accounting and Finance di
Birmingham Inggris. Kini, dia sudah lulus magister.

Sedangkan
Sopariah, mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten.
Dia lulus Sarjana (periode Maret 2017) dalam waktu tercepat (3 tahun 4
bulan) dengan predikat cumlaude. Dia anak yatim dengan 8 bersaudara.
Untuk menyambung hidup, Ibunya bekerja sebagai tukang pijat, dan dia
sendiri rela sambil kuliah menjadi buruh cuci dan pembantu rumah tangga.
Itulah sebagian kecil kisah anak-anak yang berasal dari keluarga miskin
yang pada awalnya tidak mungkin bisa kuliah. Kini, dengan Bidikmisi
menjadi mungkin dan kenyataan sepanjang memiliki prestasi akademik yang
memadai. Seringkali, mereka memiliki prestasi yang sangat mengagumkan
(outstanding), baik akademik maupun nonakademik, khususnya di Perguruan
Tinggi Negeri.

Ide dasar program Bidikmisi ini adalah adanya
keyakinan (thesis) bahwa pendidikan merupakan sistem rekayasa sosial
terbaik dan terbukti untuk memutus mata rantai kemiskinan,
keterbelakangan peradaban, ketidak tahuan (kebodohan) dan ketidak
adilan. Keyakinan tersebut, diperkuat dengan hasil penelitian di Kenya
dan Mumbai India yang telah dilakukan oleh Jeffrey D. Sach (The End of
the Poverty, 2005), Eric Stark Maskin, penerima Nobel Ekonomi 2007 dan
Jared Bernstein (All Together Now: Common Sense for a Fair Economy,
2006).

Disamping kajian-kajian yang sifatnya akademik, pengalaman
empirik juga memperkuat bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat
luar biasa dalam memotong mata rantai kemiskinan. Saat menjadi Direktur
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dan Rektor ITS, menambah dan
memperkuat keyakinan saya akan hal tersebut. Selain itu, terlalu banyak
contoh seseorang yang masa lalunya berada dalam kubangan kemiskinan,
tapi dengan pendidikan yang baik mereka bisa melepaskan diri dari
belenggu kemiskinan. Bahkan bisa menjadi mesin penggerak pembangunan
bangsa. Sebut saja Chaerul Tanjung.

Pada saat uji kelayakan dan
kepatutan (fit and propper test) sebagai menteri pendidikan, Presiden
SBY dan didampingi Wakil Presiden Boediono menyampaikan kerisauannya
tentang akses ke Perguruan Tinggi khususnya negeri bagi anak-anak yang
berasal dari keluarga miskin. Beliau menyampaikan, Pak Nuh tolong
dipikirkan bagaimana caranya agar anak-anak yang berasal dari keluarga
miskin dan daerah 3T bisa kuliah.         

Berangkat dari
keyakinan tentang peran pentingnya pendidikan dan pesan Presiden, maka
disiapkanlah kebijakan afirmasi beserta payung hukum, sumber pembiayaan,
petunjuk operasional dan pertanggung jawabannya. Hal ini penting untuk
dilakukan, agar dalam pengelolaan program dengan sumber pembiayaan
berasal dari APBN, harus dipastikan sesuai  peraturan dan perundangan.
Maka dirumuskanlah kebijakan berupa beasiswa yang meliputi pembebasan
beaya pendidikan dan bantuan beaya hidup yang lebih dikenal dengan
Bidikmisi.

Awalnya, yang menjadi payung hukum adalah peraturan
menteri (2010), dikembangkan menjadi peraturan pemerintah (2011) dan
akhirnya diperkuat melalui Undang Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang
Pendidikan Tinggi. Di dalam Undang Undang tersebut, sangat jelas bahwa
setiap perguruan tinggi negeri harus menerima minimal 20 % dari total
penerimaan mahasiswa baru yang berasal dari keluarga miskin dan daerah
3T. Dengan demikian, kebijakan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab
kementerian atau pemerintah, melainkan menjadi tanggung jawab negara.

Pada tahun akademik 2010/2011 kuota Bidikmisi hanya sepuluh ribuan
mahasiswa, karena hasilnya sangat menggembirakan, kuota tersebut
dinaikkan setiap tahunnya sehingga pada tahun 2014/2015 menjadi tujuh
puluh ribuan mahasiswa. Dan total penerima Bidikmisi sampai dengan tahun
2014/2015 sekitar dua ratus ribuan.  Alhamdulillah, program Bidikmisi
ini tetap dijalankan dan dikembangkan oleh Kemristekdikti. Terima kasih
Pak Nasir, Menristekdikti. Bersamaan dengan Bidikmisi, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan merintis dana abadi pendidikan yang disisihkan
setiap tahunnya dari anggaran Kemdikbud. Pada tahun 2014, dana abadi
tersebut terkumpul sekitar Rp. 16 Triliun dan dikelola bersama
Kementerian Keuangan melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)
sebagai Badan Layanan Umum (BLU). Dengan tersedianya dana abadi
tersebut, pemanfaatannya bisa lintas generasi.

Melihat banyaknya
penerima Bidikmisi yang berprestasi sangat luar biasa, maka sangat
sayang anak-anak seperti Ujang, Raeni dan Sopariah kalau hanya sampai
jenjang pendidikan S1. Untuk itu, dibuatlah skema afirmasi lanjutan bagi
penerima Bidikmisi yang berprestasi, yaitu S2 maupun S3 baik dalam
maupun luar negeri dengan memanfaatkan dana yang dikelola LPDP.
Alhamdulillah, kini mereka sudah berjumlah tiga ratusan ribu dan sudah
ribuan yang melanjutkan jenjang S2 dan S3. Insha Allah dalam kurun
sepuluh tahun mendatang akan lahir generasi baru, para sarjana, master
dan doktor dari keluarga miskin. Saat itulah akan terjadi kebangkitan
kaum dhuafa. Mereka akan menjadi mesin penggerak kejayaan Indonesia
2045.  Mereka akan menjadi pengibar bendera Merah Putih
setinggi-tingginya, dan saat itulah para pendiri bangsa dan orang tua
mereka ‘tersenyum’ di alam ‘keabadian’. Tidakkah pendidikan merupakan
senjata paling ampuh untuk merubah dunia ! 

//

Sumber : www.dibidikmisi.com

About admin

Permadani Diksi Nasional ( Persatuan Mahasiswa dan Alumni Bidikmisi Nasional ) Republik Indonesia adalah organisasi mahasiswa/i dan alumni penerima beasiswa Bidikmisi dari pemerintah republik Indonesia. Bidikmisi diluncurkan pada tahun 2010 dan telah memiliki penerima lebih kurang 700.000 mahasiswa/i. Permadani Diksi Nasional dibentuk di Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 2015.

Check Also

Tutorial Pembaharuan Akun

Link : Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *