Home / Kisah Inspiratif Bidikmisi / Rahasia Keberhasilan Mahasiswa Ekonomi UGM Penerima Bidikmisi

Rahasia Keberhasilan Mahasiswa Ekonomi UGM Penerima Bidikmisi

Dalam mengejar kesuksesan, setiap
orang biasanya punya prinsip hidup dan cara belajar masing-masing.
Begitu pula dengan salah satu Campus Ambassador Dana Cita, Reza
Fernandes. Bukan hanya diterima di salah satu PTN favorit dengan
beasiswa
Bidikmisi, Reza juga mampu mempertahankan IPK di atas 3,80 di tengah kesibukannya di berbagai kegiatan organisasi.
Saat ini Reza merupakan mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada
(UGM) jurusan Ekonomi. Namun, jauh sebelum itu Reza sebenarnya hampir
masuk Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia bahkan sudah sempat mengikuti
matrikulasi selama 1,5 bulan di perguruan tinggi tersebut.
Meskipun saat masih SMA hanya aktif
di dua organisasi dan belum berkesempatan menjuarai
perlombaan-perlombaan yang ia ikuti, Reza berhasil diterima di IPB lewat
jalur
SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Menurut Reza, nilai rapornya yang
selalu menunjukkan peningkatan di setiap semester menjadi salah satu
faktor keberhasilannya. Bahkan, di kelas 3 Reza berhasil menduduki
peringkat pertama paralel, mengalahkan 299 siswa lain di angkatannya.

Meski demikian, Reza mengungkapkan
bahwa nilai akademik bukan satu-satunya penentu kelulusan. Hal ini
terbukti dari pengalaman temannya sendiri yang selalu masuk
ranking “bontot” di kelasnya, tapi lolos SNMPTN karena mencantumkan banyak prestasi di bidang olahraga.

Menjadi satu dari sedikit pelajar yang berhasil menembus SNMPTN
tentu saja memberikan kepuasan tersendiri bagi setiap calon mahasiswa.
Bagaimana tidak? Mereka bisa masuk PTN impian dengan modal nilai rapor
dan prestasi lainnya, tanpa perlu ikut ujian tertulis.

Lantas, mengapa kemudian Reza melepaskan kesempatan emas tersebut?

Jatuh cinta pada ilmu ekonomi

Selama menjalani matrikulasi di IPB,
Reza dilanda kebimbangan. Pasalnya, materi ajar yang diberikan tak
sesuai dengan yang ia harapkan.

Reza mendapati bahwa walaupun ia
diterima di Fakultas Ekonomi dan Manajemen, di semester 1 dan 2 nanti ia
masih akan bertemu dengan beberapa mata kuliah IPA, serta dasar-dasar
Manajemen Pertanian. Ia pun merasa kurang sreg dan mulai berpikir untuk
berganti haluan.

Reza cukup beruntung karena
matrikulasi di IPB sudah diadakan dari jauh-jauh hari. Mahasiswa yang
punya hobi menyanyi dan bermain teater ini pun punya kesempatan untuk
mengikuti ujian masuk PTN lain, tepatnya Ujian Tulis (UTUL) UGM.

Sejak SMA, Reza memang sudah punya
ketertarikan pada ilmu ekonomi. Selain pernah mengikuti Olimpiade Sains
Nasional di bidang ekonomi, pertemuan dengan seorang kakak tingkat yang
merupakan mahasiswa jurusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM juga
kian memotivasinya untuk kuliah
lintas jurusan demi mendalami ilmu tersebut, khususnya di bidang makro.

Hanya berselang tiga hari sejak
program matrikulasi berakhir, Reza mengikuti UTUL UGM. Meskipun waktu
persiapannya terbatas, nyatanya Reza tetap berhasil menembus seleksi
jalur mandiri tersebut.

Sistem belajar dengan target

Diakui Reza, ia sama sekali tak
mengetahui tipe soal yang akan keluar di UTUL UGM. Untungnya, saat
menunggu pengumuman SNMPTN, Reza sempat melakukan persiapan untuk
mengikuti ujian
SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Selama persiapan SBMPTN, Reza menargetkan setiap harinya ia harus menyelesaikan satu bundel soal latihan. Reza juga menjadikan passing grade jurusan yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga bimbingan belajar sebagai acuan untuk mengukur kemampuannya.

Dari situ, Reza bisa memprediksi kemungkinannya lolos di perguruan tinggi dan jurusan yang ia inginkan.

“Aku belajarnya harus selalu ada target. Jadi, it’s
all about target. Target itulah yang menguatkan dan memotivasi aku
karena ada tujuan yang harus aku gapai. Aku memang tipe orang yang
ambisius dan perfeksionis,” tutur Reza.

Selain menetapkan target untuk dirinya sendiri, Reza juga tak lupa mengasah kemampuannya dengan mengikuti berbagai macam try out, seperti try out STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), try out SBMPTN, dan sebagainya.

Kerja keras Reza yang penuh dengan target ini pun terbayar ketika ia dinyatakan lolos UTUL UGM.

Mencari bantuan biaya kuliah

Merasa membutuhkan keringanan biaya kuliah,
saat mendaftar SNMPTN Reza memilih untuk mengambil jalur Bidikmisi, di
mana ia bukan hanya harus melewati seleksi administrasi, tapi juga
mengikuti tes wawancara calon penerima Bidikmisi di IPB.

Saat resmi pindah ke UGM, Reza
kembali mendaftar Bidikmisi. Apalagi mengingat keluarganya punya banyak
tanggungan, seperti sang kakak yang berkuliah di perguruan tinggi swasta
dan adiknya yang masih duduk di bangku SMA.

Sayangnya, bantuan biaya pendidikan
dari Kemenristekdikti ini ternyata diutamakan untuk mahasiswa UGM dari
jalur SNMPTN dan SBMPTN. Alhasil, Reza masih harus membayar UKT semester
pertama, dan baru resmi menjadi penerima Bidikmisi susulan di akhir
semester tersebut.

Selain bukti kondisi finansial,
prestasi saat SMA turut menentukan keberhasilan seseorang untuk lolos
Bidikmisi. Reza pun tak segan memperkuat aplikasi Bidikmisi-nya dengan
mencantumkan perlombaan-perlombaan yang pernah ia ikuti—walaupun
hasilnya belum juara.

Terbukti, baik IPB maupun UGM
menyetujui permohonan Bidikmisi Reza di mana salah satu syaratnya adalah
ia harus mempertahankan IPK di atas 2,75.

Bagi Reza, syarat tersebut cukup mudah dipenuhi. Bahkan, di tahun terakhirnya ini ia berhasil meraih IPK 3,81!

Cara menyeimbangkan prestasi akademik dan non-akademik

Di tahun terakhir Reza sebagai
mahasiswa UGM, anak kedua dari tiga bersaudara ini sudah mengurangi
kesibukan non-akademiknya. Selain fokus menyelesaikan skripsi, saat ini
Reza juga sedang menjalani magang di Bank Indonesia, serta menjadi
asisten dosen.

Sebelum fokus pada kegiatan-kegiatan tersebut, Reza sangat aktif mengikuti berbagai perlombaan, seperti kompetisi business plan, serta menjadi penyelenggara berbagai event di fakultasnya.

Meskipun kegiatannya cukup padat, Reza tak kesulitan menyeimbangkannya dengan prestasi akademik.

Saat ditanya mengenai rahasia
keberhasilannya, Reza mengungkapkan bahwa ia punya buku agenda yang ia
susun setiap tahun. Di buku tersebut, ia menuliskan setiap rencana
kegiatan yang akan ia lakukan selama setahun penuh. Dari situlah Reza
bisa mengetahui prioritasnya.

“Misalnya, Senin sampai Selasa aku ada rapat di
organisasi, maka otomatis aku akan kurangi (waktu) belajar di hari
tersebut dan diganti di hari lainnya.”

Kebiasaan menyusun agenda ini sangat penting bagi Reza untuk menjaga agar tidak ada target atau rencana yang terlupakan.

“Setiap tahunnya aku buat mindmap, satu tahun ke
depan aku mau ngapain aja, target apa yang ingin aku capai, dan
alhamdulillah setiap tahunnya 70% (dari target) bisa tercapai. Sebuah
kebanggaan ketika target-target yang kamu susun di awal tahun bisa
tercapai di akhir tahun,” imbuhnya.

Meskipun sebagian besar keinginannya tercapai, Reza tak menyangkal bahwa ada kalanya ia merasa kurang pede dengan
kemampuan yang ia miliki. Namun, ketika ia berhasil mengalahkan
ketidakpercayaan diri tersebut, saat itu pula ia merasa seperti mencapai
suatu keberhasilan.

Dari situ Reza belajar bahwa setiap
orang punya kelebihan dan kelemahan, tapi mereka juga harusnya berani
untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Reza berharap bahwa setamatnya dari UGM,
ia bukan cuma bisa meringankan beban kedua orangtuanya dengan mendapat
pekerjaan yang menjanjikan, tapi juga mencapai cita-citanya sebagai
seorang ekonom hebat yang mampu membenahi perekonomian di Indonesia.

Orisinalitas postingan ini bersumber dari Media Radar Bidikmisi. Kunjungi www.dibidikmisi.com untuk mengetahui berita terbaru seputar Bidikmisi lainya.

Link : http://www.dibidikmisi.com/2018/12/rahasia-keberhasilan-mahasiswa-ekonomi.html

Humas Permadani Diksi Nasional

About admin

Permadani Diksi Nasional ( Persatuan Mahasiswa dan Alumni Bidikmisi Nasional ) Republik Indonesia adalah organisasi mahasiswa/i dan alumni penerima beasiswa Bidikmisi dari pemerintah republik Indonesia. Bidikmisi diluncurkan pada tahun 2010 dan telah memiliki penerima lebih kurang 700.000 mahasiswa/i. Permadani Diksi Nasional dibentuk di Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 2015.

Check Also

Tutorial Pembaharuan Akun

Link : Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *