Home / Kisah Inspiratif Bidikmisi / Mengukir Mimpi Melalui Bidik Misi

Mengukir Mimpi Melalui Bidik Misi

Oleh : Satria Dharma –
Universitas Trunojoyo

Prestasi,
Dedikasi dan Inspirasi Yang Akan Selalu Saya Sumbangsihkan Pada Negeri Ini

Jika setiap manusia mampu menentukan
garis hidupnya sendiri, mungkin saja tidak akan ada orang miskin dan menderita
dalam kehidupan ini, jika semua orang bisa memilih untuk hidup bahagia, mungkin
saja tidak akan ada kesedihan dan keresahan saat ini. Namun kenyataannya, sudah
ada yang menentukan benang merah kehidupan setiap insan manusia dimuka bumi ini. Lahir dari keluarga sempurna adalah impian setiap anak
manusia, tak terkecuali seorang bayi laki laki mungil yang lahir tepat pada
tanggal 17 November 1995, Gandhi Satria Dharma nama yang diambil dari tokoh
aktivis politik ternama dunia asal India (Mahatma Gandhi) dengan harapan sang
bayi akan mengikuti jejak sempurna seperti sang figur. Akan tetapi tidak ada
yang namanya sempurna, karena setiap insan yang dilahirkan ke dunia ini telah ditentukan
nasibnya masing-masing.

Di masa Sekolah
Menengah Atas saya mulai berusaha untuk menemukan jati diri, saya ikut dalam
berbagai
kegiatan
sekolah dan berusaha untuk menjadi icon, khususnya bagi sekolah dan
orang tua.
Karena bagi saya jika hanya harus sekolah saja tidaklah cukup
mengajarkan saya dalam hal Leadership. Kepemimpinan yang baik mesti di uji
dalam berorganisasi, melalui organisasi itulah setiap insan akan semakin
berkembang dan terbuka wawasan. Oleh karena itulah berorganisasi adalah salah
satu kebutuhan  di samping prestasi
akademik yang harus tetap saya tingkatkan.
Mengikuti beberapa organisasi
sekolah dan ekstrakulikuler seperti basket, futsal, osis ataupun pramuka adalah
sebuah pernyataan kecil untuk memberikan motivasi diri yang sangat berarti bagi
saya dalam menduduki bangku sekolah.

Ketika
saya menjadi Siswa Menengah Atas, Menjadi siswa unggulan dalam program kelas
IPA dan mampu mempertahankan rangking 1 disetiap catur wulan hingga akhir
sekolah merupakan bukti meyakinkan orang tua bahwa diri saya bisa memberikan
yang terbaik baginya.
Dimasa ini juga,
semangat saya semakin menggebu-gebu, suatu semangat untuk bisa membalas jasa
kedua orang tua, semangat untuk membuktikan bahwa inilah saya dengan kemampuan
yang tidak ingin dipandang sebelah mata, semangat utuk membuktikan bahwa saya
kecil tapi akan besar, semangat untuk menjadi agent of change dan
menjadi garda terdepan perjuangan bangsa ini, serta tak luput semangat ini
untuk nantinya dapat mengenyam pendidikan di kampus terbaik negeri ini.
Pendidikan
merupakan hal yang sangat penting dalam meraih masa depan, karena dengan
pendidikan, intelektualitas, integritas, dan capabilitas seseorang bisa dinilai
dan diukur oleh masyarakat. Namun tidak semua orang mampu mengenyam pendidikan
hingga perguruan tinggi, karena keterbatasan dan mahalnya biaya pendidikan.
Sebagai seorang anak yang dikategorikan dari keluarga menengah kebawah, tidak
menurunkan semangat saya untuk melanjutkan jenjang pendidikan hingga perguruan
tinggi.

Ditengah kesulitan
ekonomi, saya terus berjuang mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya.
Semangat saya dalam bidang pendidikan, mengantarkan saya menempuh setiap
jenjang pendidikan yang ada. Sebuah anugerah yang luar biasa bagi saya ketika berkesempatan
mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi pada tahun 2014 di Fakultas Hukum
Universitas Trunojoyo, melalui jalur SNMPTN berkat bantuan beasiswa bidik misi yang
diperuntukkan bagi mahasiswa ekonomi menengah kebawah, namun memiliki
pengetahuan yang besar di bidang pendidikan. Memilih Universitas Trunojoyo
sebagai tujuan pendidikan adalah suatu keputusan yang telah saya pertimbangkan
sebelumnya, sejak Sekolah Menengah Atas saya berkomitment bagaimana bisa kuliah
sambil membantu kedua orang tua dan keluarga. Bagi diri saya kesuksesan
seseorang tidak harus ditentukan oleh kampus yang dinaunginya, tetapi juga
bergantung dari pribadi mahasiswa itu sendiri untuk serius dan komitment dalam
menggapai kesuksesan.

Memang benar jika mereka
yang berkesempatan kuliah di universitas terkemuka dan ternama memang memiliki
suatu kebanggaan tersendiri. Begitupun sebaliknya, mungkin sebagian diantara
mahasiswa akan mengalami semacam tekanan batin ketika ditanya oleh keluarga,
teman, guru bahwa sekarang kuliah dimana dan jurusan apa. Tekanan batin ketika
kenyataannya adalah kita tidak sedang kuliah di universitas terkemuka negeri
ini seperti yang dicita-citakan sebelumnya, mungkin jauh dari rasa kebanggaan
yang muncul dari diri kita sendiri.

.Mereka yang
berkesempatan kuliah di kampus terkemuka dan ternama memang memiliki kebanggaan
tersendiri. Namun ingat bahwa “terkemuka” ataupun “biasa” itu hanyalah sebuah
label yang selama ini melekat di masyarakat. Kesuksesan tidak serta merta milik
mereka yang kuliah di kampus ternama. Tidak semua mahasiswa yang belajar di
kampus luar biasa bisa berperan aktif untuk memberikan kebermanfaatan bagi
masyarakat bahkan universitas yang dibangga banggakan. Namun poin utamanya adalah
pengabdian seperti apa yang bisa kita perbuat sebagai penyandang gelar mahasiswa
dan kebermanfaatan apa yang bisa kita lakukan untuk bangsa dan negera. Semua
memiliki kesempatan yang sama menuju kesuksesan, ketika hanya ada dua pilihan,
memilih menjadi mahasiswa biasa di kampus luar biasa atau menjadi mahasiswa
luar biasa di kampus biasa ? jika memang saat ini berkesempatan kuliah di
universitas biasa, maka tidak ada pilihan lain selain menjadi mahasiswa luar
biasa. jika saat ini mimpi yang  diharapkan
belum tercapai, jika saat ini keinginan untuk kuliah di kampus impian tidak
tercapai. Tidak masalah, saya yakin bahwa tuhan lebih mengetahui, sedangkan
kita tidak. Maka selalu percayalah, bahwa takdir tuhan tidak pernah salah.
Karena saya yakin, ketika kita mampu memudahkan urusan orang tua dan keluarga
disaat itulah Allah swt akan memudahkan jalan hidup kita.

Terlebih lagi ketika ibu
berkata “Nak, dirimu sebagai anak bungsu
adalah anak yang sangat ibu harapkan. jika kamu kuliah nan jauh disana, lantas
siapa yang akan menemani dan membantu ibumu disini nak. Meskipun kamu tidak
kuliah di kampus ternama yang kamu impikan, Namun ingat nak, bahwa ibu sangat
ridho akan kesuksesanmu kelak, dan Ibu berjanji akan selalu mendoakan serta
membantu disetiap perjalanan hidupmu.
Perkataan itulah yang membuat saya
semakin luluh dan memantapkan diri untuk mendaftar jalur SNMPTN bidik misi di
Universitas Trunojoyo.

Rasa ingin tahu saya terhadap
dunia pendidikan bermula dari keinginan saya untuk terus bangkit dari
keterpurukan, agar mampu menggapai cita cita saya untuk sukses dimasa depan.
Disamping itu teringat pesan Bung Karno terhadap kaum pemuda “Gantungkan
cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh,
engkau akan jatuh diantara bintang-bintang”. Tulisan itu yang terus saya pegang
teguh dalam kehidupan ini. Sesungguhnya Allah swt menciptakan manusia ke muka
bumi ini dengan misinya masing-masing. Seperti halnya Nabi Muhammad s.a.w.
terlahir dengan misinya sebagai penyempurna akhlaq manusia. Khalid bin Walid
terlahir dengan misinya sebagai panglima perang yang hebat. Para wali terlahir
dengan misinya mensyi’arkan agama Islam di nusantara. Begitupun diri saya
sebagai mahasiswa bidik misi dengan misi memberikan pengabdian penuh kepada
bangsa dan negara untuk pendidikan yang lebih baik lagi. Semua misi itu merupakan
takdir yang telah digariskan Allah swt bagi manusia di bumi ini yang wajib
dicari setiap insan manusia.

Sejak dahulu saya sudah
begitu mengimpikan menjadi seorang ahli dibidang ilmu hukum. Karena setiap
alunan pasal dari undang-undang yang terdengar di telinga, jika itu berhubungan
dengan hukum negara, selalu berhasil membuat desir hati saya tak menentu. Entah
itu saya sudah paham atau belum mengerti, namun alunan pasal dan banyak hal
lain tersebut seperti menari dan memangil saya untuk ikut berdendang dengannya.
Ketika itulah saya yakin bahwa hal itu merupakan passion diri saya. Itulah
sebabnya saya begitu ngotot mengimpikan ilmu hukum menjadi masa depan ini, dan
secara rasional memilih Fakultas Hukum.

Tak cukup hanya disitu,
harapan untuk aktif berorganisasi adalah suatu angan yang selalu saya impikan
ketika masih menduduki bangku perkuliahan. Saya menyadari bahwa jika hanya
sekedar kuliah untuk mendapatkan nilai cum
laude
saja tidaklah cukup untuk membayar hutang saya pada rakyat dan negara
karena bidik misi. Selain tanggung jawab saya sebagai anak kepada orang tua,
tentunya sebagai generasi penerus bangsa harus ada peran dan tanggung jawab
yang harus saya sumbangsihkan pada negeri ini. Pentingnya peranan pemuda
sebagai aktor dalam pembangunan bangsa sejatinya telah disadari memiliki peran
dan fungsi yang sangat penting dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lintasan sejarah telah membuktikan bahwa peran pemuda begitu signifikan dalam
proses pembangunan bangsa dan negara, sebagaimana tercatat dalam estape kesejarahan
perjuangan bangsa Indonesia. Bermula dengan dicetusnya pergerakan Budi Utomo
1908, lahirnya Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, Gerakan Tritura
1966, Gerakan Malari 1974 hingga Gerakan Reformasi 1998. Perjalanan  sejarah ini telah membuktikan bahwa masa depan
bangsa berada di tangan generasi muda untuk mampu berperan aktif sebagai pioner
dalam proses perjuangan, pembaharuan dan pembangunan bangsa. Atas dasar
tersebut, saya sebagai generasi penerus bangsa terdorong untuk menjadi garda terdepan dalam perjuangan dan kebangkitan bangsa
ini.

Awal mula memasuki bangku
perkuliahan, begitu antusias bagi saya dalam mengikuti setiap  mata kuliah yang ada, pernah terbesit dalam
hati saya ketika mulai aktif berkuliah “Saya harus menjadi mahasiswa terbaik
kampus ini dan saya harus dedikasikan apa yang saya dapatkan kelak”. Sejak saat
itulah saya mulai merangkai dan merencanakan setiap kegiatan yang harus saya
lakukan setiap harinya, banyak mimpi yang pernah saya tulis dalam selembar
kertas yang saya selipkan di setiap cover buku mata kuliah, dengan maksud untuk
mengingatkan saya akan tujuan utama yang harus saya capai kedepannya. Saya yakin
akan sesuatu yang lebih kuat daripada gunung besi, sesuatu yang lebih berkuasa
dari raja di dunia, yang berilmu lebih banyak dari pesohor sains di sudut
negeri manapun, karena saya percaya pada kebesaran Allah swt. Ya saya yakin,
Dia sesuai dengan yang diprasangkakan hambanya. Oleh sebab saya berprasangka bahwa
dia akan mengabulkan mimpi ini, maka saya yakin dia begitu adanya.

Awal semester pertama
saya langsung terjun aktif ke beberapa organisasi fakultas, seperti KOMMPAS (Komunitas
Mahasiswa Peradilan Semu) dari organisasi inilah saya mulai mempraktikkan segala
teori yang pernah saya pelajari dibangku perkuliahan, dari sinilah juga saya
mulai memfokuskan diri sebagai seorang figur akademisi dan praktisi ilmu hukum.
Berbagai kompetisi sering saya ikuti di tingkat fakultas, regional bahkan
nasional, seperti Moot Court Competition sebagai kompetisi peradilan semu yang
mengajarkan akan praktek sidang sesungguhnya sebagai penegak hukum, Debat yang
melatih kemampuan public speaking, Legal Drafting yang melatih saya dalam
praktek pembentukan suatu peraturan perundang-undangan, Mediasi yang
mengajarkan saya akan upaya penyelesaian konflik dan penulisan karya ilmiah hukum
yang mendidik saya untuk terus berfikir bagaimana menemukan dan merangkai
sebuah ilmu dan memberikan sebuah gagasan tentang keilmuan saya sebagai seorang
mahasiswa, Tak jarang bagi saya mendapatkan penghargaan dan juara di bidang
tersebut selama menempuh pendidikan.

Memang benar bahwa hasrat
manusia tidak akan pernah ada habisnya, tepat diawal semester pertama, syukur
alhamdulillah saya mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Summa Cum Laude berkat usaha dan kerja
keras yang memang sudah sejak semester awal telah saya rencanakan. Dengan modal
itulah saya semakin semangat dalam menempuh setiap jenjang semester perkuliahan
yang ada, dengan modal Indeks Prestasi Kumulatif 4,00 yang terus meningkat
hingga semester 3 (tiga) membuat saya ditunjuk oleh senior dan beberapa dosen
untuk menjadi perwakilan fakultas hukum dalam mengikuti kompetisi debat
konstitusi mahasiswa tingkat nasional. Sungguh suatu kebanggaan bagi diri saya ketika
dipercaya menjadi bagian dari tim debat fakultas hukum yang notabene merupakan senior
di atas saya. Dari kompetisi itulah yang pernah mengantarkan mimpi anak konyol
seperti saya untuk dapat menginjakkan kaki di ibu kota Jakarta tepatnya di Gedung
Mahkamah Konstitusi RI sekaligus dapat bertemu dan bersalaman langsung dengan
banyak tokoh ternama yang saya kagumi diantaranya Prof, Arief Hidayat (Ketua
Hakim Mahkamah Konstitusi RI), Dr. Anwar Usman (Wakil Ketua Hakim Mahkamah
Konstitusi RI), Prof. Maria Farida, Prof. Saldi Isra, Prof, Aswanto
(Masing-masing sebagai hakim anggota) beserta beberapa ahli hukum ternama
seperi Dr. Zainal Arifin Mochtar dsb.. Sungguh suatu kebanggan bagi saya untuk
pertama kalinya bisa membawa nama baik kampus tercinta dalam debat konstitusi
di tingkat nasional.

Tak cukup hanya disitu, lolos forum ilmiah
dan sosial di tingkat nasional dalam seleksi Great Indonesian Leader Summit
2018 yang diselenggarakan Inovator Nusantara, Indonesian Youth Social
Expedition yang diselenggarakan  Indonesia
Yale Institute, Young Compass Leadership Program yang diselenggarakan YSEALI
(Young Southeast Asian Leaders Initiative) dan Saghara Elmo, Youth Leaders
Peace Camp yang diselenggarakan Access International bekerja sama dengan
Universitas Muhammadiyah malang serta prestasi nasional lainnya, telah  memupuk rasa percaya diri saya semakin
kompleks.

Terlebih lagi ketika rasa ingin
mengabdikan diri kepada kampus pun semakin menggebu, menjadi Duta Kampus
Universitas Trunojoyo 2016 dan tergabung dalam Forum Duta Kampus Indonesia
sebagai langkah awal mendedikasikan diri bagi kampus tercinta dalam meningkatkan
pamor kampus ditingkat regional bahkan nasional, menjadi Mahasiswa Berprestasi Tingkat
Universitas, Dinobatkan sebagai Duta Bahari Kabupaten Bangkalan di tahun 2016,
Kacong Kabupaten Pamekasan 2017, Duta Lalu Lintas Pamekasan 2017, sebagai
pemegang indeks prestasi kumulatif tertinggi konsentrasi perdata hingga
fakultas dalam studi ekskursi Fakultas Hukum dan penerima excellent score dalam
english training and education yang diselanggarakan oleh Institute Prima Bhakti,
menjadi speaker dalam beberapa forum ilmiah dan kontributor buku kisah
inspiratif mahasiswa bidik misi, telah membuktikan bahwa saya tidak bisa
dipandang sebelah mata.

Hingga pada akhirnya, alhamdulillah
untuk kesekian kalinya Allah swt menjawab doa saya, atas izin Allah swt dan doa
seorang ibu, saya dapat menyelesaikan perkuliahan bukan hanya sekedar sebagai
predikat seorang sarjana, lebih dari itu semua adalah ketika saya dinobatkan
sebagai wisudawan berprestasi dan terbaik tingkat fakultas bahkan wisudawan
berprestasi tingkat universitas sekaligus sebagai kandidat wisudawan terbaik
tingkat universitas yang membuat rasa bangga dan haru saya semakin menggebu.
Tentu saja  momen wisuda merupakan yang
paling mengenang bagi diri saya, ketika orang tua dan keluarga saya hadir di
hadapan para rektorium dan para dekanat, disaat itulah saya memberikan pidato
sambutan perwakilan seluruh wisudawan dan wisudawati. Saya merasa sangat
bahagia dengan moment itu, suatu kebahagiaan yang tidak bisa saya utarakan
dengan kata-kata apapun yang ada di dunia ini. Apalagi ketika orang tua meneteskan
air mata haru melihat buah hatinya berada di atas podium dalam memberikan
sambutan.

Memang bukan suatu hal yang
mudah dalam menggapai kesuksesan, banyak proses dan perubahan yang harus sering
saya lakukan setiap harinya. Ada sebuah kutipan dari Aristoteles yang berbunyi,
“Dirimu dibentuk dari apa yang telah dikerjakan berulang-ulang, sedangkan
kesuksesan bukan usaha dan tindakan, melainkan akibat dari kebiasaan yang
sering engkau lakukan”. Oleh karena itu kesuksesan memang suatu hal yang harus
saya raih, karena dengan itulah bisa mengantarkan pada peningkatan kualitas diri
saya, setidaknya menjadi orang bernilai bagi masyarakat, sebagaimana quotes
Albert Einstein “
Try not to become a man of succes,
but a man of value”
.

 

Berbicara mengenai mimpi, ya itulah yang
membawa diri saya pada keadaan sekarang ini. Benar-benar hanya mimpi yang
menjadi bekal awal untuk menantang kenormalan nasib seorang anak desa yang tak
pernah diekspektasikan macam-macam seperti saya. Melalui tulisan ini saya
mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Presiden RI ke-6 &
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia  yaitu Jend. TNI (Purn.)  Prof. Dr. HC. H. Susilo Bambang Yudhoyono, MA
dan Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA sebagai founder terselenggaranya Program
Beasiswa Dana BOS (Beasiswa Operasional Sekolah), Beasiswa Bidik Misi dan
Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Afirmasi, yang telah membuka
mimpi bagi para pemuda untuk terus dapat melanjutkan studi ke jenjang yang
lebih tinggi. saya berharap beasiswa ini dapat terus berjalan dan semakin
meningkatkan kualitas mutu pendidikan bangsa Indonesia. Saya berjanji tak akan
pernah berhenti bermimpi dan berkarya, saya berjanji demi rasa syukurku pada ketentuannya
yang luar biasa. Saya akan usahakan menuntaskannya dengan akhir yang baik. Hingga
pada akhirnya suatu saat saya ingin bermimpi untuk bisa menjadi aparatur
penegak hukum terbaik negeri ini. Oleh karena itu bagi seluruh mahasiswa bidik
misi teruslah bermimpi, teruslah berusaha untuk mimpimu, teruslah berdoa,
teruslah berkarya sampai jumpa nanti, di puncak kesuksesan kita insya allah.
salam hangat dari pemuda pemimpi besar
.

Orisinalitas postingan ini bersumber dari Media Radar Bidikmisi. Kunjungi www.dibidikmisi.com untuk mengetahui berita terbaru seputar Bidikmisi lainya.

Link : http://www.dibidikmisi.com/2018/12/mengukir-mimpi-melalui-bidik-misi.html

Humas Permadani Diksi Nasional

About admin

Permadani Diksi Nasional ( Persatuan Mahasiswa dan Alumni Bidikmisi Nasional ) Republik Indonesia adalah organisasi mahasiswa/i dan alumni penerima beasiswa Bidikmisi dari pemerintah republik Indonesia. Bidikmisi diluncurkan pada tahun 2010 dan telah memiliki penerima lebih kurang 700.000 mahasiswa/i. Permadani Diksi Nasional dibentuk di Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 2015.

Check Also

Tutorial Pembaharuan Akun

Link : Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *