Home / Kisah Inspiratif Bidikmisi / Kenikmatan Baru Terasa Setelah “Sesuatu” Hilang

Kenikmatan Baru Terasa Setelah “Sesuatu” Hilang

Kehidupan ini bagaikan roda yang terus berputar, suatu saat berada
diatas dengan jalan yang halus beraspal, lebar, terang, yang membuat
rasa aman dan nyaman. 

Saat yang lain pernah mengalami posisi di
bawah dengan segala resiko yang serba tidak mengenakkan karena ketemu
jalan becek, berlumpur, berbatu, comberan bahkan kotoran. 

Roda
yang berputar pada porosnya ini seperti kehidupan manusia bisa dibawah,
dan saat lain berada diatas. Kalau dianalogikan dengan kehidupan
seseorang, ketika berada di posisi atas, terpaan angin semakin tinggi
semakin kencang, akibatnya mudah tumbang kalau akarnya tidak kuat. 

Sebaliknya ketika posisi di bawah, kondisi lingkungan sosialnya yang mengembleng untuk memperkokoh posisinya.

Kehidupan
ini memang penuh misteri, siapa sangka yang dulunya pengamen di bus,
pasar, idari rumah ke rumah ternyata dapat menjadi penyanyi terkenal.
Dari asisten rumah tangga menjadi juragan,  tidak pernah ada yang
memperkirakan, walaupun tindakan yang dilakukan termasuk “nekad”, tidak
sesuai dengan nalar sehat. 

Semuanya cepat berubah seperti gerakan
roda yang berputar, sehingga jangan pernah “menyelepekan” orang lain,
apapun profesinya, darimanapun kelas sosialnya, kalau Alloh SWT sudah
mengijinkan semua bisa terjadi, yang tidak mungkin menjadi mungkin. 

Jagalah
hati dan tutur kata kepada setiap orang disekeliling kita, jangan
pernah menyakiti apalagi membuat terluka karena doa orang yang
“terdzolimi” langsung sampai langit ke tujuh, didengar dan dikabulkan
Alloh SWT.

Masalah roda kehidupan, kalau diamati seseorang lebih
tahan banting ketika fasilitas yang dimilki serba pas-pasan, sehingga
mensikapinya dengan sabar, tawakal, berdoa dan berusaha agar dapat
memutus rantai kemiskinan. 

Hasilnya terbukti anak tukang becak,
tukang cuci, buruh pabrik, buruh tani, penjual gorengan, dan lain-lain
dapat mengenyam kuliah di PTN negeri bergengsi, bahkan di luar negeri
karena mendapat beasiswa “bidikmisi”. 

Selama 8 smester (4 tahun)
gratis Uang Kuliah tunggal (UKT), bahkan mendapat biaya hidup setiap
bulan sebesar Rp 650.000 per bulan, asal indeks prestasinya bertahan
minimum 3.0. 

Untuk mengetahui kisah inspiratif kegigihan perjuangan penerima beasiswa bidikmisi dapat dibaca dari buku berjudul:”Toga di Tepi Jendela“, Penulis Iis Casmiati, dkk, Penerbit: Dompet Dhuafa (2012) jumlah halaman 308, soft cover. 

Buku
ini menceriterakan kisah nyata perjalanan hidup para penerima bidikmisi
dengan segala keterbasan fasilitas, tetapi secara intelektual melebihi
rata-rata (biasanya juara paralel kelas masuk 5 besar).

Nilai
rupiah sangat berarti bagi mereka untuk bertahan hidup dan menjalani
kuliah dengan tuntutan target 4 tahun selesai. Uang sebesar Rp 650.000,-
harus dicukupkan untuk biaya makan dan kos selama sebulan.

Bisa
dibandingkan bagi kelas atas, sosialita, selebritis, orang-orang
gedongan, uang sebesar itu hanya untuk sekali makan di cafe/restoran
biasa. Namun bagi kelas kebanyakan, itu sangat berarti untuk menyambung
hidup hari-harinya. 

Bahkan ada yang rela menjadi “marbot” (orang
yang mengurus masjid, terutama dengan kebersihan lingkungan). Disinilah
kepedulian, empati, simpati, lingkungan sosialnya sangat diperlukan.

Orang-orang
kelas atas tidak pernah merasakan dinginnya malam, perihnya perut
kosong karena harus berpuasa menghemat uang saku. Mereka (orang-orang
kelas atas), baru bisa merasakan setelah fasilitas itu tidak didapatkan
(namun jarang mengalaminya). 

Misalnya saat melakukan KKN (Kuliah
Kerja Nyata) di daerah 3 T (terdepan, terluar, tertinggal), dapat
merasakan nikmat dan mensyukurinya setelah “sesuatu” (fasilitas) yang
biasa dimiliki tidak ditemukan (hilang). Biasa naik mobil berAC, dipaksa
naik angkot (truk), yang panas dan pengap. Awalnya pasti tidak nyaman
karena tidak terbiasa, lama-lama menjadi biasa. 

Pernah KKN tahun
1982 di suatu desa  daerah Yogyakarta dekat sungai Progo, satu regu
dengan anak  Kedokteran Gigi (KG), kedua orang tuanya dokter, dosen,
profesor di universitas ternama, tidak bisa menimba air sumur dengan
alat penimba dan tidak bisa mencuci baju. Jangan tanya bisa masak apa
tidak. Kalau di rumah semuanya yang mengerjakan asisten rumah tangga,
tugasnya di rumah hanya kuliah dan belajar.

Beruntung teman KKN
tersebut cepat menyesuaikan/berdamai dengan perubahan dan keadaan
sehingga tidak menimbulkan masalah berarti. Dalam kondisi begini, orang
biasa menularkan ilmunya menimba air dan mencuci baju. Tempat KKN
menjadi wahana untuk belajar langsung masalah kehidupan nyata. 

Biasanya
sekelompok  KKN anggotanya mempunyai latar belakang sosial ekonomi,
pengalaman, pengetahuan, agama, asal usul, kebiasan berbeda yang dapat
menumbuhkan rasa solidaritas, toleransi, persatuan dan kesatuan,
senasib, sepenanggungan.

Jadi ketika sesuatu (listrik diganti lampu teplok), biasa makan enak,
diganti dengan makanan/lauk pauk seadanya ala desa, air sumur harus
menimba, mencuci baju sendiri. Semuanya itu menimbulkan kenikmatan yang
luar biasa ketika berada di rumah sendiri, namun baru terasa di tempat
KKN, sehingga mensyukuri nikmat dan karuniaNya.  

Artinya
kenikmatan baru terasa setelah “sesuatu” (fasilitas) yang selama ini
dimanfaatkan tidak ditemui di tempat lain karena kondisinya yang lebih
memprihatinkan.

Yogyakarta, 4 Desember 2018 Pukul 10.29

Orisinalitas postingan ini bersumber dari Media Radar Bidikmisi. Kunjungi www.dibidikmisi.com untuk mengetahui berita terbaru seputar Bidikmisi lainya.

Link : http://www.dibidikmisi.com/2018/12/kenikmatan-baru-terasa-setelah-sesuatu.html

Humas Permadani Diksi Nasional

About admin

Permadani Diksi Nasional ( Persatuan Mahasiswa dan Alumni Bidikmisi Nasional ) Republik Indonesia adalah organisasi mahasiswa/i dan alumni penerima beasiswa Bidikmisi dari pemerintah republik Indonesia. Bidikmisi diluncurkan pada tahun 2010 dan telah memiliki penerima lebih kurang 700.000 mahasiswa/i. Permadani Diksi Nasional dibentuk di Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 2015.

Check Also

Tutorial Pembaharuan Akun

Link : Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *